Hi, blog readers. Welcome to my blog! :)
Do enjoy the words n every single of randomness inside. ;)
Welcoming some feedbacks!
~prissie~

Wednesday, November 24, 2010

Sebuah Keluarga Sejuta Kisah


Sim Plus : Sebuah Keluarga Sejuta Kisah
( Untuk XII IA 7, SMA Methodist-2 )
By : Mimi Richell Gunawan, XII IA 7, SMA Methodist-2

“Tak ada persahabatan yang lebih indah lagi daripada ketulusan masing-masing menerima kekurangan dan perbedaan yang ada. Kini semua itu bukan menjadi penghalang tapi, menjadi suatu kekhasan keluarga kami. Kami lebih daripada sahabat, tapi, kami adalah saudara dalam satu keluarga Sim Plus.”

Sim Plus? Membayangkannya saja sudah membuatku tidak sabar menguak kisah satu keluarga ini. Simple is the Plus point in life, keluarga dengan latar belakang cukup ruwet, unik, aneh, dan kreatif. Terdiri dari 44 anggota dan dikepalai Presiden Direktur Sim Plus sendiri, yaitu, Erni. Anggotanya terdiri atas latar belakang yang berbeda-beda, yaitu penjual nasi, tukang foto, atlet, jurnalis, pemimpin redaksi, pemain basket, pemain drama, penyanyi, mempunyai bisnis pabrik permen, pabrik kertas, pesulap sampai pada beberapa anggota yang pernah menjuarai berbagai perlombaan dalam bidang akademik.

Keluarga yang diasuh single parent ini akhirnya menemukan nama melalui suatu momen natal. Sim PlusSim Plus saat mengikuti lomba parodi natal dan hasilnya? Sungguh menakjubkan! Kami berhasil mendapat juara II dan juara favorit. Kekhasan Sim Plus semakin bertambah saat Sim Plus mendapat kehormatan untuk mengisi acaraEducation Expo dengan menyajikan berbagai tarian daerah dan permainan gamelan. lahir dari ide-ide kreatif dari para anggota 

Eksistensi Sim Plus semakin bertambah saat kami ditantang untuk melaksanakan suatu konser bertemakan “ Kebudayaan Tradisional ”. Kami terdiam sejenak, how could we do that? Kebudayaan tradisional kan bukan konsumsi anak muda zaman sekarang. Lagipula gimana coba, kita yang biasa-biasa ( kebetulan saat itu kita masih kelas 11 SMA) bisa menyajikan kebudayaan tradisional menjadi sesuatu yang tidak membosankan dan dapat diterima publik yang kebanyakan anak remaja itu.

“Kalian harus mampu membuat konser ini sebagai sesuatu yang berbeda dan layak konsumsi. ” ucap guru musik sekolah.

Kami masih terdiam. Layak konsumsi ?

“Kalau kalian tidak sanggup dan tidak mau membuat konser, masih banyak kok yang mau menerima tawaran saya.” 

“ Ok, Bu. Kami akan berusaha sekuat mungkin untuk membuat konser itu” ucap kami serentak dengan tegas.

“Baik, kalo begitu saya tunggu proposal kalian minggu depan.”

Hari itu, dalam diri keluarga kami muncul berbagai paham yang berbeda-beda dan bahkan kami terlalu egois untuk mengakui kami semua bukan entertainer. Segala sesuatunya kami rancang sesuai dengan ego kami masing-masing. Beberapa proposal dan ide cerita ditolak. Akhirnya kami rapat lagi dan kami pun menyetujui suatu judul dan ide cerita yaitu “Paradise Of Culture”. 

Ide itu disetujui oleh guru musik dan kami pun bersiap-siap mengurus segala sesuatunya dengan baik seperti mengemban tugasdekorasi, sound system, merancang acara, dan lighting. Walaupun kami belum pernah melaksanakan tugas seperti itu, kami percaya kalau guru itu mempercayai kami bisa melaksanakan segala sesuatunya dengan baik.

Keluarga kami bukanlah keluarga yang akrab, kami malah sering terlibat perselisihan hanya karena masalah sepele. Konser yang berjudul “ Paradise Of Culture” ini memaksa kami menampar ego kami masing-masing. Kita adalah satu keluarga maka tak satupun pekerjaan di dalam konser yang bisa dilakukan sendirian, itu adalah kerjasama tim. 

Untungnya, konser yang berlangsung 10 Mei 2008  ini berlangsung meriah dan mendapat sambutan yang hangat dari para remaja. Mereka tidak lagi menganggap kebudayaan tradisional sebagi sesuatu yang membosankan malah mereka tertarik untuk melestarikan kebudayaan tradisional sesuai dengan tujuan utama konser ini. 

Setelah konser itu berakhir, kami semakin kompak. Bayangin, dulu kami itu lebih sering terlibat perselisihan tanpa mau mengalah. Tapi, sekarang? Kami semakin akrab dan peduli akan kebutuhan anggota Sim Plus yang lain. Memang sih dalam prestasi akademik kami tidak dapat menjadi yang pertama, tapi, segi kreativitas, hum… perlu dipertimbangkan deh. 

Yeah, Sim Plus juga bukan keluarga sempurna yang selalu damai tanpa pertikaian. Kami juga sering bertengkar sama seperti anak remaja yang selalu ingin perfect. But, nobody perfect!  Sim Plus ngak pernah bertengkar lebih dari 1 hari. Namanya juga keluarga, ngak perlu deh yang namanya perselisihan.

Kini kami semua sudah menduduki kelas 12, kejadian lucu, sedih, marahan, dan kasih saying sudah kami jalani. Kami sudah siap terjun ke dunia luar menjadi pribadi yang lebih matang lagi dan siap menghadapi globalisasi. Walaupun waktu akan segera berlalu, tetapi, kisah keluarga Sim Plus akan tetap terukir dalam prasasti negri Sim Plus yang hidup dalam hati dan pikiran kami.

Tak ada persahabatan yang lebih indah lagi dari ketulusan masing-masing menerima kekurangan dan perbedaan yang ada. Kini semua itu bukan menjadi penghalang tapi, menjadi suatu kekhasan keluarga kami. Kami lebih dari sahabat, tapi, kami adalah saudara.

No comments:

Post a Comment